Amazon baru saja mengumumkan rencananya untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 14 ribu karyawan korporat. Keputusan ini diambil sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi dan mengalihkan fokus sumber daya kepada investasi yang lebih strategis.
Keputusan ini disampaikan oleh Beth Galetti, seorang eksekutif senior di Amazon, dalam sebuah pernyataan resmi. Galetti menegaskan bahwa pengurangan yang dilakukan adalah bagian dari upaya perusahaan untuk bertransformasi dan beradaptasi dengan kondisi pasar yang dinamis.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan karyawan mengenai keamanan pekerjaan mereka. Meskipun sebagian besar dari mereka diizinkan untuk mencari pekerjaan baru dalam periode 90 hari, situasi ini tetap menimbulkan ketidakpastian di dalam perusahaan.
Alasan dan Strategi di Balik Pemutusan Hubungan Kerja Ini
Menurut Galetti, keputusan untuk melakukan PHK ini bertepatan dengan strategi perusahaan untuk mengurangi birokrasi internal. Dengan cara ini, Amazon bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mempercepat pengambilan keputusan yang lebih baik.
Langkah ini juga sejalan dengan pemikiran CEO Andy Jassy yang mempromosikan penggunaan teknologi AI generatif. Tujuannya adalah untuk mengoptimalkan operasi perusahaan dan meningkatkan daya saing di pasar yang semakin ketat.
Meskipun Amazon ingin menegaskan bahwa AI tidak menjadi satu-satunya alasan di balik pengurangan tenaga kerja, teknologi ini diharapkan mampu menggantikan tugas-tugas tertentu yang sebelumnya dilakukan oleh manusia. Hal ini memicu dialog tentang peran teknologi dalam dunia kerja saat ini.
Pengaruh PHK Terhadap Tenaga Kerja dan Masa Depan Amazon
Saat perusahaan melakukan PHK, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh karyawan yang diberhentikan, tetapi juga oleh seluruh organisasi. Ketidakpastian dan ketidakstabilan dapat menurunkan moral karyawan yang tersisa, serta mempengaruhi produktivitas di masa mendatang.
Para analis memperkirakan bahwa langkah ini bisa menjadi preseden untuk tindakan serupa di perusahaan lain, mengingat tren otomatisasi dan digitalisasi yang semakin meluas. Jika tren ini berlanjut, kita mungkin akan melihat lebih banyak perusahaan yang mengambil langkah serupa dalam upaya untuk memotong biaya.
Penting untuk dicatat bahwa Amazon masih berkomitmen untuk melakukan perekrutan di area-area kunci dalam waktu dekat. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan masih mengakui pentingnya manusia dalam menjalankan berbagai fungsi yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
Sejarah Pemutusan Hubungan Kerja di Amazon
Ini bukan kali pertama Amazon melakukan PHK besar-besaran. Pada akhir 2022 hingga awal 2023, perusahaan ini telah memberhentikan sekitar 27 ribu karyawan. Tindakan tersebut diambil sebagai respons terhadap penurunan permintaan di pasar.
Amazon juga memberikan penjelasan bahwa penggunaan otomatisasi dan robotika menjadi faktor dalam keputusan mereka untuk memangkas jumlah tenaga kerja. Ini mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam cara perusahaan beroperasi untuk bertahan dalam persaingan yang ketat.
Setiap kali PHK dilakukan, perusahaan harus menyiapkan langkah-langkah untuk mendukung karyawan yang terdampak. Ini termasuk program pelatihan dan bantuan dalam mencari pekerjaan baru, sehingga karyawan dapat lebih mudah beradaptasi dengan situasi baru.
