Film “Suamiku, Lukaku” baru-baru ini diputar dalam sebuah acara yang mengangkat tema kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Acara ini merupakan kolaborasi antara Komunitas Perempuan Berkebaya dan beberapa organisasi lainnya, dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai isu yang sering terabaikan ini.
Pemutaran film diadakan di Aula Dr. Ir. Soekarno, Universitas Bung Karno, pada tanggal 8 Januari 2026. Selain menonton film, peserta juga diajak berdiskusi tentang KDRT melalui panel yang melibatkan berbagai pembicara yang memiliki perspektif penting dalam permasalahan ini.
Diskusi menghadirkan tokoh-tokoh penting seperti Ketua Komnas Perempuan dan Direktur Women’s Crisis Center, yang memberikan wawasan mendalam mengenai tantangan yang dihadapi para penyintas KDRT. Melalui penyampaian ini, diharapkan penonton tidak hanya teredukasi, tetapi juga terdorong untuk berani bersuara.
Film Sebagai Medium Edukasi dan Refleksi Sosial
Rektor UBK, Dr. Ir. Sri Mumpuni Ngesti Rahaju, menekankan bahwa “Suamiku, Lukaku” adalah media yang tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga refleksi dan edukasi. Ia berharap film ini dapat menggugah empati masyarakat terhadap kasus KDRT yang sering kali dianggap tabu untuk dibicarakan.
Maria Ulfa, Ketua Komnas Perempuan, seperti yang dijelaskan dalam sambutannya, merasa bahwa film ini sangat penting untuk membantu masyarakat memahami situasi KDRT. Dia menekankan bahwa banyak orang merasa malu untuk berbicara mengenai pengalaman mereka karena stigma yang ada di masyarakat.
Setiap tahun, Komnas Perempuan menerima ribuan laporan mengenai kekerasan terhadap perempuan, termasuk KDRT. Menurut Maria, penyebab utama dari semua ini adalah ideologi patriarki yang masih kuat dalam masyarakat, sehingga perlu pendekatan kultural yang lebih mendalam.
Kesadaran dalam Mengatasi KDRT
Film ini tidak hanya ingin memicu diskusi, tetapi juga mengajak penontonnya untuk aktif dalam penanganan masalah KDRT. Dalam acara tersebut, banyak yang mengingatkan bahwa penting untuk bergerak dari empati ke aksi nyata. Hal ini dimulai dengan keberanian untuk berbicara dan memberikan dukungan kepada para penyintas.
Maria Ulfa mengungkapkan rasa syukur kepada SinemArt yang berani memproduksi film yang diharapkan dapat membantu mengangkat suara para penyintas. Film seperti ini menjadi saluran penting untuk menyampaikan pesan sosial yang mendesak kepada masyarakat.
Dengan menceritakan kisah-kisah keseharian yang menyentuh dan menggugah kesadaran, “Suamiku, Lukaku” berupaya menunjukkan bahwa suara perempuan tidak boleh dibungkam. Setiap individu memiliki hak untuk melindungi diri dari kekerasan dalam bentuk apapun.
Refleksi dari Para Penyintas KDRT
Dalam diskusi, Mieke Amalia mengungkapkan pengalaman pribadinya sebagai penyintas KDRT. Dia memberikan pesan kepada para perempuan agar tidak buru-buru menikah dan lebih terlebih dahulu mempersiapkan diri secara mental dan finansial sebelum mengambil langkah tersebut.
Chika Waode juga berbagi pengalamannya mengenai kekerasan psikis yang dialaminya. Dia menjelaskan bagaimana pentingnya memiliki kemandirian finansial untuk mencegah terjebak dalam hubungan yang berpotensi berbahaya. Keberanian untuk mengakhiri hubungan berbahaya bisa muncul setelah mendapatkan dukungan psikologis yang tepat.
Penting bagi perempuan untuk menyadari bahwa mereka berhak untuk merasa aman dan diperlakukan dengan hormat dalam setiap hubungan. Diskusi ini tidak hanya membuka mata banyak orang, tetapi juga memberikan harapan bagi mereka yang masih terjebak dalam situasi kekerasan.
Pesan Moral dalam Film dan Diskusi
“Jangan berikan 100 persen dari cinta kamu,” kata Chika Waode, menekankan pentingnya kemandirian. Pesan ini menjadi salah satu inti dari diskusi, di mana perempuan diajak untuk mencintai diri sendiri serta memprioritaskan kebahagiaan dan keselamatan mereka.
“Suamiku, Lukaku” tidak hanya memiliki alur cerita yang menarik, tetapi juga dibintangi oleh aktor-aktor terkenal yang menghidupkan pesan penting di dalamnya. Setiap karakter merepresentasikan berbagai sosiokultural yang ada di masyarakat, sehingga film ini bisa diterima dan dipahami oleh banyak kalangan.
Dengan tayangnya film ini, diharapkan semangat protest terhadap KDRT semakin diperkuat, dan lebih banyak perempuan yang berani untuk bersuara. Seiring dengan itu, masyarakat juga harus memberikan dukungan untuk menuntaskan masalah yang telah berlangsung terlalu lama ini.
