78 Persen Pekerja Indonesia Khawatir Terdesak AI, Apa Strategi Bertahannya?

Kekhawatiran tentang dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap dunia kerja di Indonesia terus meningkat. Hasil survei terbaru menunjukkan bahwa mayoritas pekerja mengantisipasi perubahan besar dalam peran dan fungsi pekerjaan akibat perkembangan teknologi ini.

Sektor yang paling merasakan dampak potensial dari AI termasuk digitalisasi, data science, dan layanan keuangan. Sejumlah responden juga mengkhawatirkan bagaimana AI bisa mempengaruhi layanan pelanggan dan administrasi, namun sebagian besar melihatnya sebagai peluang reskilling daripada ancaman hilangnya pekerjaan.

Menurut Rishi Patil, Kepala Produk AI di suatu perusahaan, meskipun AI semakin canggih, kebutuhan akan keputusan yang diambil oleh manusia tetap tidak terhindarkan. Dalam konteks ini, AI seharusnya memperkuat peran manusia, bukan menggantikannya.

Perusahaan, tegasnya, adalah sekumpulan individu yang berkolaborasi. Interaksi sosial dan budaya organisasi tetap menjadi unsur yang tak tergantikan dalam dunia kerja, meskipun teknologi terus berkembang.

AI, dalam pandangannya, berfungsi sebagai “cognitive multiplier” yang meningkatkan kemampuan manusia dalam memproses informasi dan membuat keputusan yang lebih baik. Dengan demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan manusia, meski prosesnya dipermudah oleh teknologi.

Dalam ranah rekrutmen, penggunaan AI sudah mulai mengotomatisasi banyak aspek, seperti penyaringan kandidat dan penjadwalan wawancara. Perubahan ini memberikan peluang bagi perekrut untuk fokus pada aspek yang lebih strategis, seperti membangun hubungan dengan kandidat dan memahami kebutuhan jangka panjang organisasi.

Rishi mencatat bahwa transformasi ini bukan berarti menghilangkan peran manusia, melainkan mengubah cara kerja mereka menjadi lebih efisien. Beban administratif berkurang, memberi ruang bagi pemikiran strategis yang lebih mendalam.

Pesan Rishi bagi para pekerja dan pencari kerja adalah tidak perlu takut dengan keberadaan AI. Sebaliknya, keterampilan dalam memanfaatkan teknologi ini akan menjadi keunggulan kompetitif.

Dengan kemampuan menggunakan AI secara efektif, seseorang dapat menjadi lebih unggul dalam lingkungan kerja yang semakin kompleks. Dalam konteks ini, AI bukanlah pengganti, tetapi justru penambah nilai atas kemampuan manusia.

Kekhawatiran Terhadap AI di Sektor Pekerjaan di Indonesia

Kekhawatiran akan dampak AI di sektor pekerjaan menjadi sorotan utama saat ini. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 78% pekerja merasa bahwa AI akan mengubah sifat pekerjaan mereka secara signifikan. Ini menunjukkan bahwa ada pergeseran pemahaman yang perlu dilakukan antara teknologi dan peran manusia dalam pekerjaan.

Di sektor digital, data science, dan layanan keuangan, kekhawatiran mencapai puncaknya. Pekerja di sektor-sektor ini merasa lebih rentan terhadap ancaman dari teknologi yang dapat menggantikan fungsi mereka.

Namun, perubahan yang dibawa oleh AI dilihat oleh sebagian besar responden sebagai peluang untuk pendidikan ulang dan pengembangan keterampilan baru. Pemerintah dan perusahaan diharapkan untuk memberikan pelatihan yang cukup agar pekerja dapat beradaptasi dengan perubahan ini.

Proses reskilling ini penting agar pekerja dapat bersaing dalam pasar kerja yang semakin didominasi oleh teknologi. Masyarakat perlu mendapatkan informasi tentang bagaimana merespons perkembangan ini dengan baik.

Akan tetapi, penting untuk diingat bahwa perubahan ini dapat membawa manfaat. Jika dikelola dengan baik, AI dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi di banyak sektor.

Peran AI dalam Proses Rekrutmen di Perusahaan

Keberadaan AI dalam dunia rekrutmen telah membawa perubahan besar. Tugas-tugas administratif yang dulunya memakan waktu kini dapat diotomatisasi, memberi lebih banyak ruang bagi perekrut untuk fokus pada hal-hal strategis.

Misalnya, penyusunan iklan lowongan dan penyaringan kandidat kini dapat dilakukan lebih cepat dan efisien melalui teknologi. Ini memungkinkan perekrut untuk mengalokasikan waktu mereka dalam membangun hubungan yang lebih baik dengan kandidat.

AI dapat membantu dalam penilaian kecocokan kandidat terhadap budaya perusahaan. Dengan algoritma yang tepat, teknologi ini dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang calon pegawai.

Transformasi dalam proses rekrutmen juga membawa dampak positif pada pengalaman kandidat. Semua ini tidak hanya membuat perekrutan lebih cepat tetapi juga lebih transparan, sehingga kandidat merasa lebih dihargai dalam proses seleksi.

Perekrut yang mampu menggabungkan intuisi manusia dengan analisis berbasis AI akan memiliki peluang lebih besar untuk menemukan talenta yang tepat. Kecerdasan buatan bukan sekadar alat, melainkan mitra strategis dalam mengoptimalkan proses pencarian bakat.

Menjaga Kualitas Hubungan Manusia dalam Era AI

Di tengah meningkatnya penggunaan AI, kualitas hubungan antar manusia tetap menjadi prioritas. Meskipun teknologi dapat mengoptimalkan banyak proses, hubungan sosial di tempat kerja tidak boleh diabaikan.

Rishi Patil menekankan pentingnya empat aspek utama dalam menjaga interaksi sosial, yaitu budaya kerja, kepercayaan, komunikasi, dan empati. Faktor-faktor ini tidak dapat digantikan oleh mesin, melainkan harus terus dikembangkan oleh manusia.

Dengan mengintegrasikan kehadiran AI, perusahaan perlu memastikan bahwa budaya kerja yang inklusif tetap dikedepankan. Lingkungan kerja yang mendukung saling pengertian dan kolaborasi akan mendorong produktivitas lebih tinggi.

Penggunaan AI menghikmahkan pentingnya komunikasi yang efektif untuk meneruskan informasi dengan jelas. Dalam hal ini, teknologi harus menjadi alat yang mendukung, bukan penghalang, dalam interaksi antar karyawan.

Pada akhirnya, keputusan untuk mengambil langkah maju dalam memanfaatkan teknologi sepenuhnya berada di tangan manusia. Membangun ekosistem kerja yang seimbang antara teknologi dan hubungan manusia akan berkontribusi pada kesuksesan organisasi di masa depan.

Related posts