Istri Tewas Longsor, Prajurit Tetap Evakuasi Korban di Aceh Tamiang

Di tengah kesedihan mendalam akibat tragedi alam, Sersan Satu (Sertu) Hamzah Lubis menghadapi kehilangan yang tak terbayangkan setelah istrinya, Lelawani, meninggal dunia akibat longsor di Aceh Tamiang. Momen tersebut terjadi pada akhir November lalu dan meninggalkan duka yang mendalam bukan hanya bagi Hamzah, tetapi juga bagi anak-anaknya yang masih sangat membutuhkan perlindungan dan kasih sayangnya.

Tragedi longsor yang menghancurkan kehidupan Hamzah tidak hanya merusak rumah mereka, tetapi juga mempengaruhi jalur transportasi yang menghubungkan wilayahSumatera Utara dan Aceh. Akibatnya, beberapa ruas jalan dinyatakan tidak bisa dilalui, dan situasi ini membuat akses ke berbagai lokasi menjadi sangat sulit.

Markas Kodim 0117 Tamiang terletak di dataran tinggi, sehingga relatif aman dari longsor. Namun, terputusnya akses jalan membuat markas tersebut terisolasi, menambah tantangan yang harus dihadapi. Sementara itu, perhatian Hamzah harus terbagi antara melaksanakan tugasnya dan mengatasi tragedi pribadinya.

Tragedi yang Mengubah Segalanya di Aceh Tamiang

Pada malam hari menjelang longsor, Kepala Staf Kodim Tamiang memberikan instruksi kepada para prajurit untuk beristirahat sejenak. Hamzah, setelah menjalani tugas berat dalam evakuasi, merasa lega tetapi harus segera kembali bertugas. Meskipun istrinya sempat menentang, Hamzah melanjutkan tugasnya, percaya bahwa pekerjaannya penting.

Kira-kira pukul 21:30 WIB, suara gemuruh longsor mengejutkan Hamzah. Dalam sekejap, pikiran pertama yang melintas di benaknya adalah tentang keselamatan istri dan anak-anaknya. Dalam keadaan panik, ia langsung berlari menuju rumahnya, yang berjarak sekitar 100 meter dari pos penjagaan.

Sesampainya di rumah, Hamzah mendapati bahwa rumahnya telah hancur porak-poranda dengan beton berserakan di mana-mana. Istrinya terjebak di bawah puing-puing, dan Hamzah merasa tak berdaya untuk menolong. Dia hanya bisa berdoa sambil menemani istrinya yang dalam keadaan kritis.

Perjuangan Hamzah Mempertahankan Harapan di Tengah Kesedihan

Putra pertamanya, Bintang, yang terperangkap di dalam ruangan, meminta tolong dalam keadaan panik. Dengan sekuat tenaga, Hamzah dan beberapa prajurit lainnya berusaha mengangkat puing-puing yang menghalangi jalan. Dalam keadaan sulit tersebut, mereka berhasil mengeluarkan Bintang meskipun dalam kondisi terluka parah.

Anak kedua Hamzah, Amanda, juga terjebak, tetapi nasib baik menghampirinya ketika dinding rumah di sisi lain runtuh dan memberinya ruang untuk bisa diselamatkan. Dia mengalami beberapa luka lecet, tetapi tidak ada patah tulang, yang merupakan kabar baik di tengah bencana yang mengerikan ini.

Di sisi lain, nasib tragis dialami oleh Lelawani. Jenazahnya baru bisa dievakuasi keesokan harinya setelah alat berat didatangkan. Hamzah merasa hancur, tetapi sekaligus berusaha untuk tetap tegar demi anak-anaknya yang membutuhkan sosok ayah yang kuat. Momen ini menjadi awal dari serangkaian tantangan baru dalam kehidupannya.

Tanggung Jawab Besar di Balik Kehilangan yang Dalam

Walaupun komandannya menyuruhnya untuk beristirahat dan menenangkan diri, Hamzah tetap merasa memiliki tanggung jawab besar. Dalam tiga hari setelah kehilangan, ia memohon untuk tetap bertugas dalam misi kemanusiaan, membantu mengevakuasi korban lain yang terdampak bencana. Baginya, membantu orang lain adalah bentuk pengabdian yang harus terus dilakukan, walaupun hatinya masih berduka.

Tindakan ini bukan hanya mencerminkan profesionalisme seorang prajurit, tetapi juga menunjukkan rasa solidaritas dan empati yang mendalam terhadap sesama. Duka pribadi tidak menghalanginya untuk memberikan bantuan kepada masyarakat yang juga mengalami kesulitan akibat bencana.

Bagi Hamzah, setiap tindakan kecilnya adalah bentuk penghormatan kepada istrinya yang telah pergi. Ia ingin meneruskan perjuangan Lelawani dengan memberikan harapan dan dukungan kepada orang lain yang membutuhkan. Dengan cara ini, ia berharap bisa menyebar semangat kebangkitan meski dirundung kesedihan.

Related posts