Menkes Kerahkan Montir Perbaiki 205 Ambulans Terkena Banjir di Sumatra

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan bahwa upaya pemulihan dari bencana ekologis yang melanda Sumatra pada akhir tahun lalu sedang dilakukan secara intensif. Fokus utama pemulihan adalah pada perbaikan unit transportasi dan perangkat medis di fasilitas kesehatan yang terdampak, mengingat pentingnya akses terhadap layanan kesehatan yang cepat dan efektif.

Budi mencatat bahwa bencana longsor dan banjir bandang merusak sekitar 205 unit ambulans yang dimiliki oleh berbagai rumah sakit di area terdampak. Kementerian Kesehatan telah mengirim tim montir dari berbagai dealer untuk memperbaiki ambulans yang rusak agar dapat segera kembali beroperasi.

“Kami telah meminta montir dari Astra, Daihatsu, KIA, dan Isuzu untuk melakukan perbaikan secepat mungkin,” ungkap Budi saat kunjungan ke RSUP Dr. Sardjito, Sleman, Yogyakarta. Langkah awal ini menunjukkan komitmen kementerian dalam memastikan ketersediaan layanan kesehatan terhadap masyarakat yang membutuhkan pasca-bencana.

Kerusakan yang Diderita Fasilitas Kesehatan Pasca Bencana

Bencana yang terjadi di Sumatra menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur dasar kesehatan. Selain ambulans yang hancur, berbagai perangkat medis di rumah sakit juga mengalami kerusakan akibat banjir.

Menurut Budi, hingga saat ini sudah 50 unit ambulans yang berhasil direparasi dan kembali operasional. Namun, masih terdapat 80 unit lainnya yang membutuhkan perbaikan lebih mendalam karena mengalami masalah teknis yang lebih kompleks.

Di samping itu, kementerian juga berupaya menghadirkan teknisi dari Siemens untuk memeriksa perangkat medis yang rusak. Langkah ini diambil untuk memastikan semua alat kesehatan kembali berfungsi, sehingga dapat mendukung pelayanan kesehatan dengan baik.

Pentingnya Pendanaan untuk Pemulihan Kesehatan di Wilayah Terdampak

Pemerintah menganggarkan Rp500 miliar untuk pemulihan fasilitas kesehatan yang terdampak bencana. Dana tersebut akan dialokasikan untuk perbaikan ambulans, revitalisasi faskes, serta pengadaan perangkat baru yang diperlukan.

Budi menjelaskan bahwa dana tersebut akan digunakan tidak hanya untuk memperbaiki alat medis, tetapi juga untuk pengadaan kasur, tempat tidur, serta peralatan elektronik lainnya. “Kita mendapatkan laporan bahwa banyak peralatan yang tidak dapat diperbaiki,” jelas Budi.

Dengan pengawasan ketat, kementerian berharap setiap anggaran dapat dimanfaatkan dengan efektif. Upaya ini diharapkan mampu mempercepat proses pemulihan dan memastikan fasilitas kesehatan berfungsi secara optimal.

Upaya Memperluas Layanan Kesehatan di Wilayah Pengungsian

Saat ini, kementerian telah memasuki tahap ketiga dalam penanganan kesehatan di area terdampak. Setelah mengaktifkan kembali layanan gawat darurat, fokus selanjutnya adalah memperluas operasional puskesmas.

Puskesmas berperan penting dalam menjangkau masyarakat di desa terpencil dan pos-pos pengungsian. Sekitar 300 ribu warga diperkirakan masih berada di seribu pos pengungsian yang tersebar di dalam daerah bencana.

Budi menekankan perlunya tenaga relawan untuk mendukung pekerjaan puskesmas, terutama di lokasi-lokasi yang sulit dijangkau. “Tenaga puskesmas yang ada tidak bisa menangani jumlah pasien yang banyak,” tuturnya.

Related posts