7 Risiko Makan Terlalu Cepat, Termasuk Penyebab Kenaikan Berat Badan

Banyak orang tidak menyadari bahwa kebiasaan makan dengan cepat dapat membawa dampak negatif bagi kesehatan tubuh. Meskipun tampak sepele, cara kita mengonsumsi makanan berperan besar dalam menjaga kesehatan pencernaan dan metabolisme tubuh.

Berdasarkan penelitian, banyak orang yang menyelesaikan satu porsi makanan dalam waktu kurang dari 10 menit. Hal ini menunjukkan bahwa tubuh kita tidak dapat memproses makanan secara instan seperti mesin.

Beragam masalah kesehatan bisa timbul akibat pola makan yang terburu-buru. Tanpa disadari, cara kita makan dapat memengaruhi sistem pencernaan, berat badan, dan bahkan meningkatkan risiko penyakit serius.

Berikut adalah beberapa dampak negatif yang dapat terjadi jika kita sering makan terlalu cepat.

Dampak Makan Terlalu Cepat pada Kesehatan Pencernaan

Pertama-tama, makan dengan cepat dapat mengganggu sinyal kenyang dari otak. Proses pencernaan membutuhkan waktu, dan jika kita mengabaikan hal ini, bisa jadi kita mengonsumsi lebih banyak dari yang diperlukan.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa mengunyah makanan sebanyak 40 kali sebelum menelannya dapat membantu meningkatkan rasa kenyang. Ini menunjukkan betapa pentingnya mengunyah makanan dengan benar untuk mencegah makan berlebihan.

Kedua, masalah pencernaan juga dapat muncul akibat kebiasaan makan yang terburu-buru. Makanan yang tidak dikunyah dengan baik sulit untuk dicerna, yang dapat menyebabkan masalah seperti kembung dan gas.

Risiko Kenaikan Berat Badan dan Diabetes Tipe 2

Salah satu masalah yang sering dihadapi adalah kenaikan berat badan. Makan dengan cepat seringkali membuat seseorang tidak sadar akan jumlah kalori yang masuk, sehingga meningkatkan potensi makan berlebihan dan lemak tubuh.

Selain itu, ada hubungan kuat antara kebiasaan makan cepat dengan risiko diabetes tipe 2. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang menghabiskan waktu kurang dari 20 menit untuk makan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengidap diabetes dibandingkan mereka yang memiliki waktu makan lebih lama.

Hal ini terjadi karena tubuh tidak dapat mengatur kadar gula darah dengan baik saat kita makan terlalu cepat, menyebabkan lonjakan gula yang dapat berujung pada diabetes.

Sindrom Metabolik dan Nutrisi yang Buruk

Kebiasaan makan yang terburu-buru juga berkontribusi pada sindrom metabolik, yang merupakan kumpulan gejala yang meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Risiko ini jauh lebih tinggi pada mereka yang terbiasa makan cepat dibandingkan mereka yang menikmati makanan secara berkelanjutan.

Makan terlalu cepat juga dapat mengakibatkan penyerapan nutrisi yang buruk. Proses pencernaan yang efisien dimulai dari mulut, dan jika makanan tidak dikunyah dengan baik, tubuh akan kesulitan dalam menyerap vitamin dan mineral yang vital.

Resiko Mengalami Tersedak

Selain risiko kesehatan lainnya, kebiasaan makan cepat juga meningkatkan kemungkinan tersedak. Terutama bagi anak-anak dan orang tua, yang mungkin sudah memiliki kesulitan saat menelan.

Mengambil gigitan besar dan tidak mengunyah makanan dengan benar merupakan penyebab utama tersedak yang bisa dihindari jika kita makan lebih perlahan.

Manfaat Makan Lebih Perlahan

Penerapan pola makan yang lebih lambat memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Pertama, pencernaan menjadi lebih baik dan mengurangi gejala seperti kembung dan mulas yang kerap muncul akibat makan terburu-buru.

Kedua, dengan makan lebih lambat, keseimbangan hormon juga dapat terjaga. Mengunyah makanan dengan lama dapat merangsang produksi GLP-1, hormon yang meningkatkan rasa kenyang, sementara mengurangi kadar hormon lapar seperti ghrelin.

Selanjutnya, kontrol gula darah pun dapat terlaksana lebih baik. Menghabiskan waktu lebih lama saat makan dapat membantu mencegah lonjakan gula, yang bisa mengurangi risiko resistensi insulin.

Bukan hanya itu, makan lebih lambat juga dapat mengurangi frekuensi ngemil. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang makan perlahan cenderung merasa kenyang lebih lama dan mengurangi konsumsi camilan hingga 25%.

Kebiasaan makan perlahan juga memberikan waktu untuk menikmati makanan, sehingga bisa menjadikan pengalaman makan lebih menyenangkan. Ini terutama penting dalam era di mana banyak orang cenderung multitasking saat makan.

Cara Menerapkan Kebiasaan Makan yang Lebih Lambat

Beberapa strategi bisa diterapkan untuk memperlambat pola makan. Pertama, coba untuk mengunyah setiap suapan sebanyak 15 hingga 30 kali, sehingga membantu proses pencernaan lebih baik.

Minimalkan gangguan saat makan, seperti menonaktifkan televisi atau perangkat lain, agar dapat fokus pada makanan yang sedang dikonsumsi. Memperhatikan isyarat lapar dan kenyang juga penting untuk mencegah makan berlebihan.

Penggunaan peralatan makan yang lebih kecil juga dapat mempermudah mengambil suapan kecil dan makan lebih lambat. Pastikan memberi jeda antara suapan dengan meletakkan peralatan makan di meja agar lebih mindful saat makan.

Terakhir, cobalah untuk memperhatikan setiap elemen makanan, termasuk rasa dan tekstur. Ini tidak hanya membuat pengalaman makan lebih nikmat, tetapi juga meningkatkan kesadaran tentang seberapa banyak makanan yang sudah dikonsumsi.

Dengan memperhatikan cara kita makan, kita tidak hanya dapat menjaga kesehatan pencernaan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Related posts