Saat menempuh pendidikan tinggi, banyak mahasiswa yang berharap dapat menggapai karir impian mereka. Namun, kenyataannya, banyak dari mereka yang justru merasa menyesal dengan jurusan yang dipilih setelah menyandang gelar sarjana.
Hasil survei dari sebuah perusahaan bursa kerja menunjukkan bahwa meskipun selama masa kuliah responden merasa bersemangat dengan pilihan jurusannya, realitas pasca-lulus seringkali berbeda. Ketika mereka memasuki dunia kerja, faktor gaji menjadi permasalahan utama yang kerap kali mengecewakan.
Hal ini dipertegas oleh ekonom yang menyoroti bahwa banyak lulusan yang tak siap menghadapi kenyataan dunia profesional. Ketika tagihan menumpuk, keinginan untuk memiliki penghasilan yang memadai mengubah cara berpikir mereka tentang pilihan karir.
Survei tersebut mencakup 1.500 lulusan yang sedang mencari pekerjaan, menggambarkan kenyataan pahit yang sering dihadapi oleh banyak mahasiswa. Pilihan yang dulunya dianggap tepat, bisa berubah menjadi penyesalan saat melihat peluang kerja yang tidak sebanding dengan harapan awal.
Mengapa Banyak Lulusan Menyesali Jurusan yang Dipilih?
Salah satu alasan utama di balik penyesalan ini adalah harapan yang tidak realistis tentang gaji. Banyak mahasiswa yang berasumsi bahwa gelar tertentu akan memberikan gaji yang tinggi, padahal kenyataannya bisa jauh berbeda. Saat mereka memasuki dunia kerja, seringkali gaji yang ditawarkan jauh dari ekspektasi awal.
Selain itu, situasi pasar kerja juga mempengaruhi apakah lulusan dapat menjangkau posisi yang diinginkan. Banyak jurusan tidak memiliki permintaan yang cukup di dunia kerja, mengakibatkan lulusan kesulitan menemukan pekerjaan yang sesuai. Ini membuat mereka mempertanyakan keputusan yang diambil selama masa studi.
Kesediaan untuk beradaptasi dengan perubahan juga menjadi tantangan tersendiri. Beberapa lulusan tidak siap untuk mengalihkan jalur karir mereka jika bidang yang dipilih ternyata tidak memberikan peluang yang baik. Akibatnya, ketidakpuasan terhadap karir yang dijalani pun meningkat.
Data Jurusan yang Paling Banyak Disesali Lulusan
Berdasarkan survei, terdapat sejumlah jurusan yang paling banyak disesali oleh para lulusan. Jurusan jurnalisme menempati urutan teratas dengan proporsi 87%, menunjukkan realitas pahit di industri media saat ini. Banyak lulusan merasa bahwa mereka tidak mendapatkan imbalan yang adil untuk usaha yang telah mereka lakukan.
Selain jurnalisme, sosiologi dan seni juga menjadi jurusan dengan tingkat penyesalan yang tinggi, masing-masing sebesar 72%. Mahasiswa yang mengambil kedua jurusan ini sering kali menghadapi tantangan dalam menemukan pekerjaan yang relevan dan memadai secara finansial.
Selain itu, jurusan komunikasi (64%) dan pendidikan (61%) juga menjadi sorotan, dengan banyak lulusan menyadari bahwa gaji yang diharapkan tidak sejalan dengan kenyataan. Jurusan manajemen marketing dan riset serta pendamping medis juga tidak luput dari sorotan, dengan banyak alumninya merasakan kesulitan mencari peluang kerja yang sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka.
Bagaimana Mahasiswa Dapat Menghindari Penyesalan di Masa Depan?
Agar tidak mengalami penyesalan yang sama, mahasiswa perlu melakukan riset mendalam sebelum memilih jurusan. Memahami demand pasar untuk jurusan tertentu sangat krusial agar mereka tidak terjebak di bidang yang tidak menjanjikan. Diskusi dengan alumni atau profesional di bidang yang diminati juga bisa memberi insight yang berharga.
Selanjutnya, penting untuk mempertimbangkan keterampilan yang dapat diterima di berbagai sektor. Mengembangkan keterampilan tambahan di luar kurikulum dapat meningkatkan daya saing mereka di pasar kerja. Kegiatan magang dan pengalaman kerja juga dapat memberikan gambaran langsung tentang dunia profesional.
Terakhir, mahasiswa harus tetap terbuka untuk beradaptasi dengan kemungkinan perubahan jalur karir. Fleksibilitas dan kesiapan untuk belajar hal baru bisa menjadi keuntungan besar di tengah perubahan dinamika dunia kerja. Dengan cara ini, mereka dapat lebih siap menghadapi tantangan yang mungkin muncul di masa depan.
