Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 Mengangkat Kisah Pelayaran Agung Abad ke-15

Dengan semangat eksplorasi, karya seni hadir sebagai jendela untuk mengungkap sejarah dan budaya. Dalam pameran yang dihadirkan, tema Maps and Astronomy menjadi sorotan, menggugah rasa ingin tahu tentang hubungan manusia dengan alam semesta.

Pameran ini menjelajahi perjalanan seorang navigator yang merancang peta dengan pendekatan baru. Selain itu, cerita ini juga menyoroti pengetahuan astrolab yang telah ada sejak masa Abbasiyah, menciptakan percampuran yang sangat menarik antara ilmu pengetahuan dan seni.

Melalui karya Syahrizal Pahlevi, peta Banua Tonga ditransformasikan menjadi pusat perhatian, dengan menempatkan Danau Toba dan masyarakat Batak di tengahnya. Konsep ini menjadikan Eropa hanya sebagai seminimalis benjolan kecil di ujung peta yang luas.

Penggambaran yang kuat ini terlihat dalam tiga lembar etsa, yang masing-masing membawa judul yang mencolok. Dengan judul Rewriting the Circle of the World, Library of Florence, dan The Inversion of the World Map, karya ini menjadikan peta bukan hanya sekadar gambar geografi, tetapi juga sebuah narasi budaya yang mendalam.

Selanjutnya, babak keempat menampilkan kisah Sang Naturalis yang mengangkat tema Flora and Fauna. Di sini, Rusyan Yasin memberikan visualisasi yang menggugah, dengan tiga etsa bertajuk Camphor Specimens and Andalas Wood, Encounters in the Alps, dan Garden of Two Climates.

Pentingnya Keseimbangan Ekosistem dalam Penjelajahan Naturalis

Dalam kisah ini, perjalanan sang naturalis mengarah ke Pegunungan Alpen, di mana ia mendokumentasikan beragam bentuk kehidupan yang sebelumnya tak terbayangkan. Pemandangan alam yang megah memberikan inspirasi dan menjadi sumber pengetahuan baru dalam penelitian flora dan fauna.

Ketika kembali ke kepulauan, sang naturalis mencoba membawa benih tanaman baru. Sayangnya, bibit anggur yang dibawanya sangat kesulitan beradaptasi dengan iklim tropis yang keras, berbeda dengan apel yang ternyata berhasil tumbuh subur di dataran tinggi Batak.

Dari pengalaman ini, muncul keinginan untuk menciptakan perkebunan baru yang memadukan berbagai jenis tanaman. Perkebunan ini tidak hanya akan memperkaya keanekaragaman hayati tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.

Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya keseimbangan ekosistem dalam setiap usaha penjelajahan. Keseimbangan antara keinginan untuk mengeksplorasi dan melestarikan lingkungan menjadi inti dari perjalanan seorang naturalis.

Melebur Budaya Melalui Pertemuan dan Perdagangan

Di babak kelima, tema Faces and Culture mencuat dengan menekankan interaksi antar manusia di berbagai latar budaya. Pelayaran ini memperlihatkan bagaimana pertemuan antar budaya dapat membentuk identitas dan transformasi masyarakat.

Mariam Sofrina menggambarkan dinamika ini melalui tiga lembar etsa, yaitu Port of Malacca, Winter Market in Venice, dan West Gorga. Setiap karya bercerita tentang perjumpaan manusia dari latar belakang yang beragam, menciptakan momen berharga dalam sejarah interaksi manusia.

Di Pelabuhan Malaka, beragam bahasa seperti Arab, Tamil, Melayu, dan Tionghoa menyatu dalam harmoni perdagangan global, menunjukkan keberagaman yang saling melengkapi. Proses perdagangan di sini tidak hanya sekadar pertukaran barang, tetapi juga pertukaran ide dan nilai-nilai budaya.

Sementara itu, di pasar musim dingin di Venesia, atmosfer interaksi semakin hidup. Orang-orang Eropa dapat terlihat tertarik pada kain ulos yang sentuhannya memberi kesan khas, sementara pelaut Batak mengenal cita rasa keju dan roti gandum.

Selain itu, anak-anak Eropa yang ingin tahu mengamati tato di lengan pelaut, menciptakan jembatan antara budaya yang berbeda. Semua ini menggambarkan bahwa pertemuan budaya dapat menciptakan inovasi dan pemahaman yang lebih dalam antarumat manusia.

Related posts